Ini Dia Selebrasi Kontroversial di Piala Dunia Wanita

By | July 10, 2019

Amerika Serikat berhasil lolos ke final Piala Dunia Wanita 2019 setelah menghadang Inggris dengan poin 2-1 di babak semifinal. Di partai puncak, Amerika Serikat akan melawan Belanda yang telah sukses mengubur harapan Swedia. Keberhasilan Amerika Serikat masuk ke partai Piala Dunia Wanita 2019 diiringi oleh sebuah kontroversi.

Cara Alex Morgan untuk merayakan kemenangannya yang bomber, dianggap melecehkan budaya Inggris, yaitu minum teh. Mantan penyerang Inggris, Lianner Sanderson pun ikut kurang setuju dengan aksi yang dilakukan Alex Morgan. Menurutnya cara Morgan melakukan selebrasi itu sangat tidak perlu dilakukan. Mendapat kritikan tersebut, Morgan pun membela dirinya.

Morgan bersikukuh mengatakan bahwa dirinya tidak pernah bermaksud untuk melecehkan budaya Inggris. Menurutnya, selebrasi itu hanya bertujuan untuk membungkam kritik kepada timnya. Dia mengatakan bahwa mereka tengah melewati rintangan yang tidak mudah sama sekali dalam turnamen itu, dan itulah tehnya. Berikut ini tiga pemain yang memiliki selebrasi kontroversial.

Selebrasi Kokain Robby Fowler

Robby Fowler pernah dikecam ketika ia masih bermain untuk Liverpool. Kecaman ini datang setelah Fowler melakukan aksi selebrasinya dengan gerakan seolah sedang menghirup kokain. Fowler berselebrasi setelah ia berhasil mencetak gol ke gawang rival sekota Liverpool, Everton pada April tahun 1999 lalu. Federasi sepak bola Inggris (FA) memberikan Fowler ganjaran dengan melarangnya bermain empat pertandingan.

Manajer Liverpool, Gerard Houlier sempat berada di pihak Fowler dan membelanya. Ia menilai apa yang dilakukan Fowler saat selebrasi itu seolah sedang memakan rumput. Namun, meskipun demikian Fowler tetap meminta maaf atas tindakan yang telah ia lakukan saat perayaan selebrasi keberhasilannya atas tercetaknya sebauh gol.

Selebrasi Paolo Di Canio

Ketika masih bermain, Paolo Di Canio dikenal sebagai salah satu pemain yang eksentrik. Namun pria yang beasal dari Italia ini pernah mendapat kecaman, ketika melakukan selebrasi saat ia mengabdikan dirinya di Lazio pada musim 2005. Pada saat itu, di Canio berselebrasi dengan cara mengangkat tangannya menirukan salam fasis Nazi Jerman.

Pria yang juga pernah membela West Ham United ini, bahkan ditudung mendukung rasisme. Di Canio sendiri jelas saja membantah tudingan itu, kemudian dengan bangga dia mengakui sebagai pendukung fasisme. Akibat aksi kontroversi ini, Di Canio mendapat hukuman berupa larangan bermain selama satu pertandingan dari federasi sepak bola Italia (FIGC)

Selebrasi Nicolas Anelka

Selebrasi yang menimbulkan kontroversi selanjutnya dilakukan oleh mantan bomber Arsenal, Nicolas Anelka. Peristiwa ini terjadi ketika Anelka tengah membela West Bromwich Albion pada musim 2013. Setelah ia berhasil menghasilkan satu buah kaki, Anelka dituding melakukan selebrasi dengan menirukan salam dari Quenelle yang erat dengan anti-semit dan Nazi Jerman.

Sahabat dair Anelka, M’bala membantah hal ini. Sayangnya, bantahan tersebut tidak cukup untuk mematahkan hukuman dari FA. Pria yang berasal dari Prancis itu kemudian mendapat hukuman berupa larangan untuk ikut bermain lima pertandingan dan denda sebesar 80 ribu. Selebrasi yang dilakukannya ini bukan hanya berdampak pada dirinya, namun West Born pun menjadi kehilangan sponsor.

Cara seseorang dalam mengekspresikan sebuah kegembiraannya tentu berbeda satu sama lain. Bisa dengan cara menari, tersenyum, meloncat-loncat dan sebagainya. Hal ini pun tentu berlaku pula untuk para pemain sepak bola yang tekah berhasil mencapai apa yang ia harapkan. Meskipun cara mengekspresikan kesenangan itu tidak ada larangannya, namun tetap harus diperhatikan ketika berselebrasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *